Perlu Ketegasan tentang LKS, Calistung, dan Kegiatan Aneka Lomba

Muhammad Wildan
Kategori Berita: Pendidikan Anak Usia Dini 21 Juni 2021 | Dibaca 111x Diposting oleh: Muhammad Wildan

Perlu Ketegasan tentang LKS, Calistung, dan Kegiatan Aneka Lomba

PAUDPEDIA ---- Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Organisasi Profesi Guru PAUD sudah saatnya mengambil sikap tegas menolak pihak penerbit yang menawarkan Lembar Kerja Siswa PAUD. Jenjang pendidikan di satuan PAUD tidak mengenal LKS PAUD, juga buku-buku yang mengajarkan siswa PAUD membaca, menulis, dan berhitung dengan cara mendrill.

Pengenalan huruf dan angka pada anak usia dini dilakukan dengan cara bermain. Karena dunia anak memang adalah bermain, saat bermain anak menyerap pengetahuan dan belajar terhadap apa yang disukai. Saat ini metode belajar dengan pendekatan STEM serta menggunakan sarana bermain yang ada di seputar lingkungan atau loose part menjadi pendekatan belajar sambil bermain yang banyak dilakukan.

Dalam mendidik anak usia dini umur tiga hingga lima tahun, yang terpenting kita perlu membangun dulu konsep berpikirnya. Anak di usia dini tidak boleh dibebani dengan target belajar, menghafal rumus, angka, ataupun alfabet. Jadi anak diajak mengumpulkan data dan melaporkan kembali apa yang dia lihat, ingat, dan rasakan. Aktivitas tersebut dilakukan dengan bermain.

Selain itu, kegiatan lomba-lomba mewarnai, modeling, fashion show serta lomba berhitung yang banyak dilakukan sejumlah pihak seperti event organizer serta toko buku sudah saatnya untuk tidak lagi dilakukan. Karena berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan banyak pihak terbukti kegiatan lomba seperti itu tidak tepat untuk tumbuh kembang anak usia dini.

"Saya pikir sudah saatnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota karena saat ini kewenangan SPM PAUD ada dibawah Pemda Tk 2 dan organisasi profesi seperti Himpaudi, IGRA dan IGTKI berani menolak kerjasama dengan pihak ketiga seperti penerbit dan toko buku untuk tidak melakukan hal yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak usia 0 sampai 6 tahun, dan merekomendasikan pembelian buku yang tidak sesuai," ujar Ketua Program Studi S2 PAUD Universitas Negeri Jakarta, Dr. Nurbiana Dhieni, M.Psi dalam Bimbingan Teknis Penguatan Bunda PAUD kedua di Cirebon, Jawa Barat, Selasa-Jumat, 5- 8 Juni 2021.

Dr. Nurbiana Dhieni, M.Psi menyebutkan ada empat miskonsepsi atau kesalahpahaman tentang PAUD berkualitas yang terjadi di tengah masyarakat seperti tercermin dalam fenomena di atas yang sudah waktunya diakhiri. PAUD berkualitas ditentukan dari kualitas layanannya, bukan dari kondisi sarana prasarana dan kelengkapan fasilitas.

Menurut Dr. Nurbiana Dhieni, M.Psi, keempat kesalahpahaman tentang PAUD berkualitas antara lain: pertama,  PAUD berkualitas mengajarkan baca tulis hitung (calistung) dengan sistem drill; kedua, PAUD berkualitas melakukan kegiatan bermain tanpa perencanaan dan  pendampingan; ketiga, PAUD berkualitas sebagai jenis satuan PAUD Holistik Integratif; dan keempat, banyak orang berpikiran bahwa PAUD berkualitas identik dengan memiliki bangunan dan lahan luas, memiliki beragam alat main serta memakai seragam sekolah," ujarnya.

Dikatakan, di antara empat miskonsepsi tersebut paling kerap muncul yaitu PAUD hanya boleh bermain tanpa keterkaitan dengan aspek perkembangan yang ingin dikuatkan. PAUD juga dianggap sebagai tempat bagi anak untuk belajar calistung (membaca, menulis dan berhitung). PAUD berkualitas ditentukan dari kualitas layanannya, bukan dari kondisi sarana prasarana dan kelengkapan fasilitasnya.

Calistung tetap perlu dan penting untuk diajarkan karena kemampuan literasi dan dasar-dasar STEM memang dimulai pengenalan keaksaraan dan konsep bilangan. Namun demikian, yang perlu ditekankan adalah jangan sampai PAUD hanya mengajarkan calistung apalagi sampai ngebut bikin program drill semacam crash course atau menjadi bimba (bimbingan belajar baca) yang membuat anak-anak menjadi salah arah juga karena tidak imbang dengan bekal tumbuh kembang yang lain.

Elemen PAUD berkualitas adalah: 1) memiliki kualitas proses pembelajaran yang baik dimana sarpras hanya sebagai pendukung terjadinya proses pembelajaran yang aman dan nyaman; 2) memiliki tata kelola yang baik dalam arti melengkapi dapodik dan memiliki perencanaan yang baik; 3) bermitra dengan orangtua; dan 4) memantau dan pendukung terpenuhinya kebutuhan esensial anak usia dini di luar layanan pendidikan, seperti pemenuhan kesehatan dan gizi, pembinaan moral emosional dan pengasuhan, serta perlindungan anak dari segala bentuk kekerasan. Jadi, yang perlu diperhatikan layanan PAUD berkualitas turut mendukung terwujudnya layanan PAUD-HI di komunitasnya.

Dijelaskan, layanan PAUD-HI adalah kondisi agar AUD mendapatkan layanan yang holistik dan terintegrasi di satuan. Konsep PAUD-HI menegaskan bahwa pengembangan anak usia dini menjadi tanggung jawab bersama satuan PAUD, orang tua, dan Dinas Pendidikan serta lintas sektoral dan lintas jenjang pemerintahan (pusat, daerah, desa). PAUD HI, jelasnya terdiri dari tiga bidang utama, yaitu pendidikan, kesehatan, dan gizi, serta pengasuhan, perlindungan, dan kesejahteraan anak usia dini.

PAUD berkualitas adalah satuan PAUD yang memiliki lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mampu memfasilitasi anak agar berkembang dengan utuh. Secara garis besar, layanannya dapat dibagi menjadi kualitas proses pembelajaran dan kualitas pengelolaan satuan (PP SNP No 57 Tahun 2021).

PAUD Berkualitas ditentukan dari kualitas layanannya, bukan dari kondisi sarana prasarana, dan kelengkapan fasilitasnya. Sarana prasarana adalah pendukung dalam memastikan lingkungan belajar di satuan PAUD aman dan nyaman bagi anak peserta didik. Dijelaskan layanan PAUD berkualitas terdiri dari layanan proses pembelajaran yang baik dilakukan dengan memastikan terjadinya stimulasi yang mampu meningkatkan perkembangan anak pada aspek kognitif, bahasa dan literasi, sosial emosional, motorik kasar dan halus; serta mampu menanamkan nilai-nilai agama dan budi pekerti dan perilaku hidup bersih sehat.

Kegiatan pembelajaran beragam di PAUD berkualitas sebaiknya dilakukan melalui cara yang sesuai untuk Anak Usia Dini. Di antaranya adalah bermain yang merupakan fitrah dari AUD; adanya interaksi positif antara pendidik dan anak untuk dapat mewujudkan situasi yang menyenangkan dan nyaman; dan melakukan kegiatan yang dilakukan kontekstual dan bermakna.

Kemitraan antara satuan PAUD dengan orangtua/wali menjadi kunci kesinambungan antara kegiatan bermain dan nilai-nilai yang dikenalkan di satuan PAUD dan di rumah. Contoh bentuk kemitraan ini seperti komunikasi dua arah antara lembaga dan orang tua; diskusi bersama; sesi berbagi; dan bertukar informasi perilaku anak di rumah dan sekolah.

Layanan yang di PAUD berkualitas berbentuk pemantauan pemenuhan kebutuhan esensial AUD. Kebutuhan esensial anak antara lain: perilaku hidup bersih sehat, pertumbuhan dan perkembangan anak. Satuan PAUD perlu didorong untuk bermitra dengan beragam unit di komunitasnya dalam memastikan pemenuhan layanan pendidikan, kesehatan, perlindungan dan kesejahteraan anak.

Penulis: Eko

(Sumber Berita: PAUDPEDIA)

Muhammad Wildan
Kategori Berita: Pendidikan Anak Usia Dini 21 Juni 2021 | Dibaca 111x Diposting oleh: Muhammad Wildan

Komentar Anda

Agenda

  • Agenda
    🕔19 Agustus 2021

    Bimbingan Teknis Program Pengendalian Gratifikasi Kemendikbudristek Tahun 2021

  • Agenda
    🕔17 Agustus 2021

    Upacara Virtual Peringatan Hari Ulang Tahun ke-76 Kemerdekaan RI

  • Agenda
    🕔23 Juli 2021

    Rapat Verifikasi dan Validasi data TIK PKBM Se Sulsel

  • Agenda
    🕔02 Juli 2021

    Forum Konsultasi Publik Standar Layanan BP PAUD dan Dikmas SulSel

  • Agenda
    🕔16 Juni 2021

    Vaksinasi Covid-19 Pegawai BP PAUD dan Dikmas Sulsel

Selengkapnya