Wartawan Deklarasi Anti-Hoax di BP-PAUD dan Dikmas

Rusdy Embas
Kategori Berita: Umum 10 Januari 2019 | Dibaca 29x Diposting oleh: Rusdy Embas
Pagi masih muda, puluhan jurnalis terlihat memadati Ruang Aksara Ilmi di Gedung Panreada Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (BP-PAUD dan Dikmas) Sulawesi Selatan. Mereka hadir untuk mengikuti bimbingan teknis (Bimtek) ujian kompetensi wartawan.

Bimbingan teknis (Bimtek) itu diselenggarakan oleh Jurnalis Online Indonesia (JOIN) Sulawesi Selatan. Sejumlah narasumber hadir berbagi pengetahuan selama dua hari.

Bimtek dibuka Direktur Pusdiklat JOIN Sulsel, Zulkarnain Hamson, Kamis (10/1/2019). Hadir sebagai pemateri antara lain Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga, Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur Ronald Ngantung, dan Pemimpin Redaksi Pedoman Karya Asnawin Aminuddin. Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel, Zulkifli Gani Otto memberikan materi di sesi akhir bimtek.

Seusai pembukaan, peserta membubuhkan tanda tangan di atas sebuah spanduk ukuran sekitar dua kali satu setengah meter sebagai pernyataan perang terhadap berita hoax dan ujaran kebencian.  Mereka merupakan jurnalis online dari berbagai daerah dari kabupaten kota se Sulsel. Bahkan ada juga dari Sulawesi Barat. Deklarasi berita Anti-Hoaks dan Ujaran Kebencian.

Dalam paparannya sebelum pembukaan, Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga mengajak jurnalis melawan hoax dan ujaran kebencian dengan meningkaatkan profesioanalisme dalam menjalankan tugasnya sebagai jurnalis.

"Media adalah mitra strategis kepolisian dalam melawan hoax yang sering muncul di media konvensional," katanya.

Dikatakan, informasi itu disampaikan jurnalis harus berkualitas, oleh karena itu seorang Jurnalis harus membenahi kemampuan pribadi masing-masing agar tidak salah menganalisa dan menyampaikan sebuah berita.

Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur Ronald Ngantung membawakan materi teknik melakukan liputan investigas reporting.

"Informasi yang viral di media sosial, tidak boleh menjadi bahan berita sebelum dilakukan investigasi secara mendalam. Itu agar dapat menghasilkan berita faktual yang mengandung kebenaran dengan sumber-sumber yang kapabel," tambah Ronald.

Invetigasi reporting, katanya, tidak hanya dilakukan pada permasalahan yang belum terungkap, tapi kasus yang sudah diketahui umum dan menarik pun, perlu juga dilakukan penyelidikan agar lebih menarik.

"Menjadi jurnalis investigasi, setidaknya memiliki syarat keberanian selain kecerdasan mencari sumber-sumber berita. Melakukan investigasi memiliki tantangan tersendiri sebab penuh resiko teror. Tapi tak perlu takut asal bekerja sesuai kaidah jurnalistik," katanya.(rusdy)***


(Sumber Berita: rusdy embas)

Rusdy Embas
Kategori Berita: Umum 10 Januari 2019 | Dibaca 29x Diposting oleh: Rusdy Embas

Komentar Anda

Agenda

  • Agenda
    🕔20 Desember 2018

    FGD bagi Pendamping Program Paket C Binaan SPNF SKB dan PKBM

  • Agenda
    🕔27 Agustus 2018

    Bimbingan Teknis Penjaminan Mutu Satuan Pendidikan Non Formal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB)

  • Agenda
    🕔30 Juli 2018

    FGD Orientasi Supervisi Satuan PAUD dan Dikmas

  • Agenda
    🕔07 Mei 2018

    Diklat Peningkatan Kompetensi Penilik

  • Agenda
    🕔07 Mei 2018

    Diklat Manajemen Pengelolaan LKP

Selengkapnya

Change Language

Sosial Media

Statistik Pengunjung