Sosialisasi Vaksinasi untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Firman Rusliawan
Kategori Berita: Umum 05 Maret 2021 | Dibaca 142x Diposting oleh: Firman Rusliawan

Sosialisasi Vaksinasi untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Pemerintah telah memulai melaksanakan program vaksinasi tahap kedua yang menyasar pelayan publik dan lansia, termasuk bagi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) yang menjadi salah satu prioritas program vaksinasi tahap kedua ini.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), melalui Iwan Syahril, Ph.D selaku Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) menyampaikan "Pendidik dan tenaga kependidikan menurut amanat Presiden mendapat prioritas vaksinasi, dan diberikan kepada seluruh PTK  mulai 24 Februari dan diberikan secara bertahap bagi PTK dari jenjang PAUD, RA, SD MI, dan SLB, selanjutnya SMP, MTs, SMA, MA, SMK, hingga ke perguruan tinggi dan sederajat." Hal ini disampaikan dalam Webinar Sosialisasi Vaksinasi untuk PTK yang digelar daring melalui Zoom, pada Kamis (4/3/2021).

Hadir pula pada kesempatan tersebut Direktur Jenderal PAUD, Dikdas, dan Dikmen, Jumeri dan dari Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK).

Kebijakan vaksinasi untuk PTK diambil sebagai langkah untuk mengurangi kehilangan kemampuan dan pengalaman belajar pada siswa atau learning lost akibat pandemi Covid-19, terutama bagi yang paling kesulitan menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ) seperti peserta didik PAUD, SD, dan SLB; serta untuk mendukung akselerasi penyelenggaraan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan.

"Kita memulai vaksinasi ini dengan memprioritaskan tujuh Provinsi dengan angka penularan tertinggi terlebih dahulu, kemudian pada Maret 2021 kita akan mendistribusikan lagi 11 juta vaksin untuk memenuhi kebutuhan vaksin baik di luar tujuh Provinsi tadi dan di luar ibu kota Provinsi. Untuk daerah yang sulit dijangkau, harap bersabar untuk distribusinya. Tapi kami targetkan Juni semua PTK sudah divaksinasi," terang Iwan.

Jumeri menambahkan usulan di akhir sesi, bahwa sebagai dampak dari pandemi ini, sebagian besar anak-anak belajar dari rumah. Hanya di bawah 5 persen sekolah yang melaksanakan tatap muka, itu pun di luar Jawa. "Setelah pandemi berakhir, harus diadakan sensus ulang terhadap peserta didik. Ini dikarenakan saat pandemi sebagian besar memilih untuk tidak melanjutkan sekolah atau drop-out, memilih untuk mencari kerja atau kawin, lalu enggan untuk melanjutkan sekolah lagi," lanjut Jumeri. (Firman)



(Sumber Berita: Firman Rusliawan)

Firman Rusliawan
Kategori Berita: Umum 05 Maret 2021 | Dibaca 142x Diposting oleh: Firman Rusliawan

Komentar Anda

Agenda

  • Agenda
    🕔07 Oktober 2020

    Kelas Orangtua Berbagi Sesi 3 "Menumbuhkan Karakter Anak Usia Dini di Rumah selama Masa BDR"

  • Agenda
    🕔06 Oktober 2020

    Bimbingan Teknis PTK PAUD Angkatan III

  • Agenda
    🕔23 September 2020

    Undangan Rapat Koordinasi Kabupaten/Kota Tahun 2020

  • Agenda
    🕔08 September 2020

    Orientasi Teknis Pemetaan Mutu Satuan PAUD dan Dikmas Tahun 2020

  • Agenda
    🕔08 September 2020

    Undangan Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Program Pendidik/Tutor Bantu bagi SKB

Selengkapnya