Peluncuran Novel Tentang Budaya Toraja

Rusdy Embas
Kategori Berita: Umum 06 April 2019 | Dibaca 127x Diposting oleh: Rusdy Embas

Peluncuran Novel Tentang Budaya Toraja

Sebuah novel karya penulis asal Toraja diluncurkan di Pendopo Agung Mangkubumen Yogyakarta, Sabtu (6/4/2019). Novel fiksi bergenre sejarah, budaya, dan petualangan itu berjudul, Surya, Mentari, dan Rembulan.

Sili Suli, penulisnya, menempatkan Surya sebagai tokoh dalam kisah ini. Dia seorang gembala asal Toraja yang mendapat tugas untuk menyelamatkan anak seorang pemangku adat yang diculik oleh sekelompok orang tak dikenal.

Misi itu membawa Surya berkelana menembus batas. Berawal dari kampung halamannya, Toraja ke Pinrang, Parepare, melintasi laut menuju Semarang, Yogyakarta, Surakarta, dan Batavia.
 
Bahkan, Surya terpaksa harus menemani para juragan yang tergabung dalam komunitas KenDor itu untuk berpetualang menyusuri Sungai Gangga dan berjalan kaki hingga ke kaki Gunung Sagarmartha di Nepal sana.

Ketua Panitia peluncuran buku, Boedijono, mengatakan, novel ini bercerita tentang keunikan budaya Toraja, diantaranya tentang ritual mayat berjalan dan prosesi acara pemakaman adat Toraja yang cukup menggelitik yakni Rambu' Solo' level ma'barata.

"Dalam novel ini ada disinggung soal tarian pusaka keraton yang paling sakral yakni tari Bedhaya Semang dan festival Gadhimai yang unik di Nepal," katanya.

Menurut Boedijono, secara implisit novel ini sebenarnya ingin mengemukakan nilai-nilai kearifan lokal dari Toraja, Bugis, Yogyakarta, dan Nepal dengan tujuan bahwa setiap daerah sesungguhnya memiliki nilai-nilai kearifannya masing-masing.

"Dan itulah sebenarnya yang merupakan kekayaan Indonesia sebagai salah satu pusat kebudayaan dunia," kata Boedijono.

Peluncuran ini dirangkaikan dengan diskusi novel menampilkan delapan narasumber sebagai pembedah, yaitu Mantan Bupati Tana Toraja Kol. TNI (Purn) Tarsis Kodrat yang berbicara tentang judi sabung ayam di Toraja yang merupakan salah satu fenomena sosial yang diangkat oleh Sili Suli dalam novelnya; Ketua Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia (AEKI) Litha Brent berbicara tentang seluk beluk kopi Toraja yang amat populer; Lambert Tallulembang selaku pemerhati budaya Toraja; Raden Haji Heru Wahyu Kiswoyo selaku pemerhati budaya Jawa; Sri Moelja Istiyaningsih yang merupakan seorang penari Jawa; Ahmad Sekhu sebagai rekan sesama novelis; Anten Juhansyah yang adalah Sekjen KAWIMA; dan Langgeng Supriyadi yang merupakan pencinta alam. (Iksan)


(Sumber Berita: Rusdy Embas)

Rusdy Embas
Kategori Berita: Umum 06 April 2019 | Dibaca 127x Diposting oleh: Rusdy Embas

Komentar Anda

Agenda

  • Agenda
    🕔23 Juli 2019

    Bimbingan Teknis Pamong Belajar SPNF-SKB Tahun 2019

  • Agenda
    🕔30 April 2019

    Focus Group Discussion (FGD) Validasi Draft Pengembangan Model Pembinaan Kursus dan Pelatihan Tahun 2019

  • Agenda
    🕔22 April 2019

    Orientasi Teknis Petugas Pengumpul Data dalam rangka Pemetaan Mutu Tahun 2019

  • Agenda
    🕔25 Maret 2019

    Bimbingan Teknis Kepala Satuan Pendidikan Anak Usia Dini

  • Agenda
    🕔25 Maret 2019

    Bimbingan Teknis Pengelola PKBM

Selengkapnya

Change Language

Sosial Media

Statistik Pengunjung