Mendikbud : Calistung Saja Tak Cukup Hadapi Tantangan Masa Depan

Rusdy Embas
Kategori Berita: Umum 07 September 2019 | Dibaca 24x Diposting oleh: Rusdy Embas

Mendikbud : Calistung Saja Tak Cukup Hadapi Tantangan Masa Depan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Muhadjir Effendy, mengatakan, tantangan masa depan, di abad 21, makin kompleks, sehingga tidak cukup jika hanya berbekal kemampuan bisa baca, tulis, dan berhitung (Calistung) saja. 

Hal tersebut dikemukakan Mendikbud pada puncak acara Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) 2019 tingkat nasional yang dipusatkan di Lapangan Karebosi Makassar, Sulawesi Selatan. Peringatan HAI ke-54 dan Festival Literasi ini berlangsung dari tanggal 5 hingga 8 September 2019.

Dikatakan, setiap orang dituntut menguasai literasi digital, literasi keuangan, literasi sains, literasi kewargaan dan kebudayaan.

"Gerakan pemberantasan butuh huruf mungkin akan segera bergeser menjadi gerakan penguasaan enam dasar literasi tersebut," kata Menteri Muhadjir.

Mendikbud mengimbau seluruh pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota seluruh Indonesia untuk menyelenggarakan peringatan hari aksara Internasional di daerah masing-masing, karena itu sangat penting untuk menguatkan kembali komitmen bersama pemerintah dan seluruh komponen masyarakat dalam memberantas buta aksara dan menguatkan tekad membangun sumberdaya manusia yang berdaya saing tinggi pada abad 21. 

"Presiden Jokowi telah menggariskan bahwa prioritas pembangunan Indonesia pada lima tahun ke depan adalah, pembangunan sumber daya manusia," kata Mendikbud yang mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu. 

"Saya juga menghimbau kepada seluruh keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama mengembangkan dan menguatkan budaya literasi. Para orangtua perlu mengenalkan buku sejak dini. Sediakan waktu untuk membaca buku atau cerita kepada anak-anak kita," katanya.

Sekolah, lanjut Mendikbud, harus berperan aktif mengadakan berbagai kegiatan literasi siswa. Masyarakat dapat mengambil peran dengan ikut menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berkembangnya budaya literasi.

Hari aksara internasional, katanya, adalah hari yang disepakati bersama para menteri pendidikan pada kongres menteri-menteri pendidikan se-dunia di Teheran, tahun 1966, yang diselenggarakan oleh UNESCO sebagai respon terhadap kondisi dunia, saat itu, di mana lebih dari 40 persen penduduk dewasa dunia masih buta huruf (buta aksara). 

Kongres itu mencanangkan gerakan pemberantasan buta aksara  secara masif di seluruh dunia, terutama di negara-negara sedang berkembang dan mengusulkan kepada sidang umum PBB dan menjadi keputasan bersama untuk menjadikan tanggal 8 September sebagai Hari Aksara Internasional.

"Sejak saat itu, hari aksara internasional diperingati setiap tahun oleh semua negara anggota PBB. Peringatan ini dipandang perlu sebagai penguatan kembali komitmen bersama pemberantasan buta aksara di semua negara," katanya. 

HAI 2019, lanjut menteri mengambil tema Ragam Budaya Lokal dan Literasi Masyarakat. Ini didasarkan oleh kasadaran dari 652 bahasa daerah. Keragaman budaya ini merupakan aset bangsa Indonesia yang harus dikembangkan sebagai wahana bersama dalam meningkatkan literasi masyarakat dalam memberantas buta aksara. (rusdy)

(Sumber Berita: rusdyembas)

Rusdy Embas
Kategori Berita: Umum 07 September 2019 | Dibaca 24x Diposting oleh: Rusdy Embas

Komentar Anda

Agenda

  • Agenda
    🕔23 Juli 2019

    Bimbingan Teknis Pamong Belajar SPNF-SKB Tahun 2019

  • Agenda
    🕔30 April 2019

    Focus Group Discussion (FGD) Validasi Draft Pengembangan Model Pembinaan Kursus dan Pelatihan Tahun 2019

  • Agenda
    🕔22 April 2019

    Orientasi Teknis Petugas Pengumpul Data dalam rangka Pemetaan Mutu Tahun 2019

  • Agenda
    🕔25 Maret 2019

    Bimbingan Teknis Kepala Satuan Pendidikan Anak Usia Dini

  • Agenda
    🕔25 Maret 2019

    Bimbingan Teknis Pengelola PKBM

Selengkapnya

Change Language

Sosial Media

Statistik Pengunjung