Webinar Kelas Orangtua Berbagi BP-PAUD dan Dikmas Provinsi Sulsel Hadirkan Tiga Narasumber

Yulfien Pasapan
Kategori Berita: Pendidikan Anak Usia Dini 21 Oktober 2020 | Dibaca 79x Diposting oleh: Yulfien Pasapan

Webinar Kelas Orangtua Berbagi BP-PAUD dan Dikmas Provinsi Sulsel Hadirkan Tiga Narasumber

Kepala Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (BP-PAUD dan Dikmas) Provinsi Sulawesi Selatan, Drs. Arman Agung, M.Pd mengingatkan kembali asal muasal berdirinya PAUD ketika membuka webinar Kelas Orangtua Berbagi, Rabu (14/10/2020).

Webinar yang dimoderatori Pamong Belajar Muda BP-PAUD dan Dikmas Provinsi Sul-Sel, Dian Rachmawati, itu menghadirkan tiga narasumber. Dua dari mereka berkisah tentang pengalamannya mendampingi anaknya belajar di rumah pada masa pandemi Covid-19. Satunya lagi, narasumber ahli dari Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang.

Sekolah bagi anak usia dini pertama kali muncul secara institusi di Jerman April tahun 1782. Pendidikan anak usia dini dianggap sangat penting. Konsepnya adalah, bermain sambil belajar yang saat itu dipahami, belajar saat bermain.

Hanya saja, ada miskonsepsi berbagai kalangan terkait belajar dan bermain. Dua aktivitas yang dilakukan dalam satu momen. Intinya, bagaimana anak mendapatkan banyak hal ketika sedang bermain.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dari katanya saja adalah pendidikan, bukan pembelajaran anak usia dini. Mendidik dalam konsepnya adalah bermain. Sehingga saat bermain sudah masuk berbagai pengembangan anak usia dini, baik motorik, bahasa, dan sosio-emosionalnya.

Di Indonesia, salah satu alumni PAUD adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang populer dengan nama Ki Hajar Dewantara, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.

Tokoh pendidikan yang lahir di Jogjakarta, 2 Mei 1889, dan menamatkan pendidikan dasarnya di Belanda inilah yang kemudian mendirikan Taman Siswa.

Sejak awal, PAUD dipahami sebagai taman belajar, taman kanak-kanak, dan kelompok bermain. Tidak disebut sebagai sekolah anak. Filosofi taman adalah, tempat yang menyenangkan. Apapun yang dilakukan.

Yang harus ada di pola pikir kita adalah bagaimana melakukan sesuatu yang menyenangkan anak-anak dalam bingkai pengetahuan dan berbagai potensi perkembangan anak usia dini.

Dalam kaitan belajar atau bermain dari rumah bagi pelaku PAUD, menurut Arman Agung, tak lepas juga dari merdeka belajar. Seseorang yang mau terapkan merdeka belajar itu mudah. Tidak perlu banyak teori.

Dikatakan pula bahwa pendidikan pertama dan utama itu diterima di rumah. Dalam konteks ini, orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Karena itulah, prestasi anak bisa berbeda karena peran orangtua dalam meletakkan dasar pendidikan bagi anak-anaknya.

"Pendidikan bukan di pundak guru, tetapi pada orangtua. Dalam hal pendidikan, sekolah itu hanya tambahan," katanya.



(Sumber Berita: Rusdi Embas)

Yulfien Pasapan
Kategori Berita: Pendidikan Anak Usia Dini 21 Oktober 2020 | Dibaca 79x Diposting oleh: Yulfien Pasapan

Komentar Anda

Agenda

  • Agenda
    🕔07 Oktober 2020

    Kelas Orangtua Berbagi Sesi 3 "Menumbuhkan Karakter Anak Usia Dini di Rumah selama Masa BDR"

  • Agenda
    🕔06 Oktober 2020

    Bimbingan Teknis PTK PAUD Angkatan III

  • Agenda
    🕔23 September 2020

    Undangan Rapat Koordinasi Kabupaten/Kota Tahun 2020

  • Agenda
    🕔08 September 2020

    Orientasi Teknis Pemetaan Mutu Satuan PAUD dan Dikmas Tahun 2020

  • Agenda
    🕔08 September 2020

    Undangan Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Program Pendidik/Tutor Bantu bagi SKB

Selengkapnya