Mestinya Tidak Masalah dengan Belajar dari Rumah

Yulfien Pasapan
Kategori Berita: Pendidikan Anak Usia Dini 21 Oktober 2020 | Dibaca 80x Diposting oleh: Yulfien Pasapan

Mestinya Tidak Masalah dengan Belajar dari Rumah

Dosen Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang, Farah Farida Tantiani, tampil sebagai narasumber ahli pada Webinar Kelas Orangtua Berbagi Sesi-4 yang diselenggarakan BP-PAUD dan Dikmas Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu (14/10/2020).

"Saya apresiasi orangtua dan guru di masa pandemi ini. Pasti capek. Seneng dengernya bunda ngajak ayahnya kerja sama membantu anak di rumah," kata Farah, pada Webinar yang dimoderatori Pamong Belajar Muda BP-PAUD dan Dikmas Provinsi Sulsel, Dian Rachmawati itu.

Apresiasi itu diberikan Farah usai mendengar kisah dua orangtua anak peserta didik anak usia dini mendampingi anaknya Belajar dari Rumah di masa pandemi Covid-19.

Sebelum melanjutkan paparannya, Farah mengajak nonton sebuah video yang menunjukkan seorang ibu yang kesulitan mengajari anaknya mengucapkan "Ketuhanan Yang Maha Esa" secara utuh.

Dalam video yang viral di media sosial itu, si orangtua ingin merekam kemampuan anaknya mengucapkan "Ketuhanan Yang Maha Esa" untuk dikirimkan kepada gurunya.

Farah menyebut, ada pembelajaran di luar materi belajar yang bisa dipetik dari video itu. Belajar adalah, saat ada proses pengetahuan dan keterampilan nilai-nilai baru.

Menurut Farah, ada uji kesabaran bagi si ibu saat menghadapi anaknya dalam mencapai target pembelajaran. Kemungkinan anak itu belum bisa membaca, sehingga dia hanya mengandalkan ingatan terhadap ibunya ngomong. Padahal, untuk bisa baca, butuh pengucapan yang benar. Tidak sekadar memberi apa yang diketahui.

Dikatakan, si anak belajar bukan hanya dari buku dan sekolah. Mestinya, tidak ada masalah dengan Belajar Dari Rumah (BDR). Medianya, apa saja bisa dimanfaatkan menjadi bahan pelajaran bagi anak.

Dalam proses pemberian pembelajaran, lanjut Farah, semua bisa digunakan sebagai sarana belajar. Dalam sebuah perjalanan saat bepergian pun, anak bisa belajar. Misalnya si anak menghitung jumlah penumpang di atas kereta api atau mobil yang dikendarai.

Bahkan, sapu juga bisa menjadi sarana belajar. Misalnya apa saja fungsi sapu. Naik sepeda pun begitu, akan mengajarkan kepada anak bagaimana tentang keseimbangan dan kesabaran sampai mahir mengendalikan sepeda.

"Intinya, semua hal bisa digunakan sebagai media pembelajaran," katanya.

Pertanyaan mendasarnya adalah, apa target belajar. Misalnya, jika anak belum bisa membaca seperti pada kesulitan anak mengucapkan "Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam video itu, si ibu bisa mengambil videonya sepenggal-sepenggal sesuai kemampuan anak.

Usahakan lebih fokus kepada kecerdasan berhitung, berbahasa, dan perhatikan juga fisik serta sosial emosi anak. Terutama anak usia dini, karena itu merupakan landasan buat tingkat lanjutan. Ibarat fondasi bangunan harus kuat dan kokoh.

Memilih memakai krayon pun bisa menjadi sarana pembelajaran. Kenapa anak usia dini menggunakan krayon? Itu mengenai pelajaran tentang menggenggam bagi anak, karena krayon lebih mudah digenggam. Jadi, biarkan anak menggambar apa saja yang dia bisa dan inginkan, karena pembelajarannya bukan hanya pada gambar tetapi bagaimana anak menggenggam.

Mulailah misalnya mengajari anak menulis huruf yang bisa dilakukan hanya dengan sekali tarik saja, seperti menulis huruf C. Hindari dulu mengajari anak memulai menulis dari huruf A.

Untuk menstimulasi anak, Sarah menyarankan agar diberi kesempatan dan membiarkan anak mencari hal-hal baru secara konsisten dan bertahap. Bimbing mereka melakukan sesuatu yang baru.

Materi yang diberikan Farah memunculkan banyak tanggapan dari partisipan, khususnya kendala yang dihadapi orangtua saat mendampingi anaknya BDR, sementara di sisi lain dia juga harus mengerjakan tugas lain.

Untuk Bunda yang kurang sabar, kata Farah, kira-kira bisa tahu sampai kapan sabarnya? Jangan sampai, justru ibu menuntut lebih tinggi dari kemampuan si anak, hanya karena terbebani harus setor ke sekolah sesuai target.

Belajar mengenal huruf misalnya. Jika kesulitan, dipecah saja sampai anak bisa ucapkan secara benar. Tahapan ini akan membantu memenuhi target. Atau buat kesepakatan dengan si anak. Misalnya, tanyakan kepada anak, sampai di mana hari ini? Nanti lanjut lagi ya! Jangan paksa anak memenuhi target sekolah, tapi perhatikan kemampuan si anak.

Farah juga berbagi tips menghadapi anak yang sudah bosan belajar di rumah dan ingin ke sekolah. Tanyakan pada anak, apa yang ada di sekolah sehingga menarik perhatiannya ngotot mau ke sekolah.

"Cari tahu penyebab sehingga anak bosan di rumah. Bunda tidak selalu harus tahu. Lebih baik beri tahu anak, agar sama-sama cari tahu," kata Farah.

Jika jenuh, Farah sarankan agar anak diajak libur sehari. Tetapi janjian agar besoknya, anak menceritakan tentang liburannya. Itu bisa dijadikan buku komik.

Bagi orangtua berkarir atau bekerja di luar sehingga anak harus dititip di rumah kakek dan nenek. Farah mengatakan, orangtua masih bisa mengajak berkomunikasi di sore atau malam hari. Minta mereka menceritakan apa saja yang ditemukan saat bermain di rumah nenek.

Untuk menghadapi anak yang lebih takut sama guru dibanding orangtua, Farah menyarankan, anak diberi pemahaman agar anak bisa mengerti bahwa ibu dan guru sama saja dalam mengajari anak.

"Tanamkan pemahaman kepada anak bahwa sekolah tidak libur, hanya saja belajarnya dari rumah," kata Farah.



(Sumber Berita: Rusdi Embas)

Yulfien Pasapan
Kategori Berita: Pendidikan Anak Usia Dini 21 Oktober 2020 | Dibaca 80x Diposting oleh: Yulfien Pasapan

Komentar Anda

Agenda

  • Agenda
    🕔07 Oktober 2020

    Kelas Orangtua Berbagi Sesi 3 "Menumbuhkan Karakter Anak Usia Dini di Rumah selama Masa BDR"

  • Agenda
    🕔06 Oktober 2020

    Bimbingan Teknis PTK PAUD Angkatan III

  • Agenda
    🕔23 September 2020

    Undangan Rapat Koordinasi Kabupaten/Kota Tahun 2020

  • Agenda
    🕔08 September 2020

    Orientasi Teknis Pemetaan Mutu Satuan PAUD dan Dikmas Tahun 2020

  • Agenda
    🕔08 September 2020

    Undangan Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Program Pendidik/Tutor Bantu bagi SKB

Selengkapnya