Model Pelibatan Orang Tua Pada Satuan Pendidikan Menengah Pertama




[ Download Lampiran ]


Bertolak dari keprihatinan pemerintah pada kondisi bangsa saat ini dimana pendidikan lebih mementingkan pendidikan akademik sehingga pendidikan karakter terabaikan. Pembangunan karakter bangsa yang sudah diupayakan dengan berbagai bentuk, hingga saat ini belum terlaksana secara optimal. Hal itu tercermin dari kesenjangan sosialekonomi-politik yang masih besar, kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai daerah, masih terjadinya ketidakadilan hukum, pelanggaran hukum, pergaulan bebas, pornografi, penyebaran dan pemakaian zat-zat adiktif bukan pada peruntukannya, kekerasan/tindakan anarkis, kerusuhan, korupsi yang merambah semua sektor kehidupan masyarakat, konflik sosial, penuturan bahasa yang buruk, ketidaksantunan, ketidaktaataan berlalu lintas, dan lain sebagainya.

Disadari bahwa masing-masing pihak memiliki kendala dalam pelaksanaan tugas mendidik ini. Sekolah misalnya, belum terbiasa untuk  meminta orangtua berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan di  sekolah. Sebagian keluarga juga, belum ada pembiasaan dan keteladanan nilai-nilai yang baik di rumah, hal yang sama bisa juga terjadi di sekolah. Apabila terjadi kesalahan baik pada sikap atau perbuatan pada anak, sekolah dan orangtua cenderung saling menyalahkan. Pada kasus lain guru menghubungi orangtua hanya ketika anak bermasalah. Orangtua misalnya, mengantar anak ke sekolah dan mengambil rapor anaknya tanpa interaksi yang bermakna dengan guru. 

Persoalan lainnya yakni antar keluarga dan masyarakat. Anak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sebagai masyarakat pesisir dengan kondisi ekonomi menengah kebawah yang identik dengan tingkat pendidikan yang rendah juga mempengaruhi tingkah pola dan pergaulan
yang kasar. Tingkat pendidikan dan jenis mata pencaharian orangtua pada umunya yang masih barada pada taraf menengah ke bawah ini menjadikan keseriusan para orangtua untuk terlibat dalam pendidikan anaknya di sekolah juga sangat mempengaruhi. Rasa segan yang masih
dimiliki oleh pada umumnya orangtua siswa untuk hadir di sekolah dan masih melihat sekolah sebagai lembaga yang memiliki “otonomi” dan “berdinding tinggi” menjadikan mereka sulit  untuk diajak masuk ke sekolah

BP-PAUD dan Dikmas Sulawesi Selatan sebagai UPT Ditjen PAUD dan Dikmas di tahun 2016 ini berusaha mencari formula dalam rangka menjawab kebutuhan di atas. Model Pelibatan Orangtua pada Satuan Pendidikan Menengah Pertama ini adalah salah satu jawaban dari pencarian formula sebagaimana yang telah disebutkan di atas. 


Bahan Ajar

PANDUAN IMPLEENTASI MODEL PELIBATAN ORANGTUA PADA SATUAN PENDIDIKAN MENENGAH PERTAMA
PANDUAN IMPLEENTASI MODEL PELIBATAN ORANGTUA PADA   SATUAN PENDIDIKAN MENENGAH PERTAMA
Bertolak dari keprihatinan pemerintah pada kondisi bangsa saat ini dimana pendidikan lebih ementingkan pendidikan akademik sehingga pendidikan karakter terabaikan. Pembangunan karakter bangsa yang sudah diupayakan dengan berbagai bentuk, hingga saat ini belum terlaksana secara optimal. Hal itu tercermin dari kesenjangan sosial-ekonomi-politik yang masih besar,  kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai daerah, masih terjadinya ketidakadilan hukum, pelanggaran hukum, pergaulan bebas, pornografi, penyebaran dan pemakaian zat-zat adiktif bukan pada peruntukannya, kekerasan/tindakan anarkis, kerusuhan, korupsi yang
merambah semua sektor kehidupan masyarakat, konflik sosial, penuturan bahasa yang buruk, ketidaksantunan, ketidaktaataan berlalu lintas, dan lain sebagainya.

Disadari bahwa masing-masing pihak memiliki kendala dalam pelaksanaan tugas mendidik ini. Sekolah misalnya, belum terbiasa untuk meminta orangtua berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah. Sebagian keluarga juga, belum ada pembiasaan dan keteladanan
nilai-nilai yang baik di rumah, hal yang sama bisa juga terjadi di sekolah. Apabila terjadi kesalahan baik pada sikap atau perbuatan pada anak, sekolah dan orangtua cenderung saling menyalahkan. Pada kasus lain guru menghubungi orangtua hanya ketika anak bermasalah. Orangtua misalnya, mengantar anak ke sekolah dan mengambil rapor anaknya tanpa interaksi
yang bermakna dengan guru.

Persoalan lainnya adalah terkait intaraksi antara sekolah dengan masyarakat, dan antara masyarakat dengan keluarga. Sekolah pada kasus lain, belum berdaya untuk mengendalikan kondisi di sekitar sekolah yang tidak kondusif seperti kebiasaan berkata kotor, membawa senjata tajam, stigma negatif sekolah yang terlanjur melekat pada masyarakat pada umumnya sebagai sekolah pembuangan dan lain-lain. Sekolah juga belum menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga dimana anak bisa menyalurkan bakat dan minatnya. Sekolah tidak menerima anak-anak di lingkungannya karena tidak memenuhi syarat. Sekolah kurang memanfaatkan lembaga atau individu di masyarakat yang bisa membantu permasalahan peserta didiknya.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka BP-PAUD dan Dikmas Sulawesi Selatan sebagai UPT Ditjen PAUD dan Dikmas di tahun 2016 membuat formula dalam menjawab persoalan di atas. Model Pelibatan Orangtua pada Satuan Pendidikan Menengah Pertama ini adalah formula
sebagaimana yang telah disebutkan di atas. 

[ Download Bahan Ajar ]

Agenda

  • Agenda
    🕔27 Agustus 2018

    Bimbingan Teknis Penjaminan Mutu Satuan Pendidikan Non Formal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB)

  • Agenda
    🕔30 Juli 2018

    FGD Orientasi Supervisi Satuan PAUD dan Dikmas

  • Agenda
    🕔07 Mei 2018

    Diklat Peningkatan Kompetensi Penilik

  • Agenda
    🕔07 Mei 2018

    Diklat Manajemen Pengelolaan LKP

  • Agenda
    🕔10 April 2018

    Rapat Koordinasi (Rakor) Kabupaten Kota Tahun 2018

Selengkapnya

Change Language

Sosial Media

Statistik Pengunjung