Model Tas Pintar Paket C Vokasi 2015




[ Download Lampiran ]


Kesetaraan bagi Program Paket C sangat berarti karena mendudukan level kualifikasi pendidikan sama dengan SMA. Walau demikian Program Paket C tetap memainkan peran dan fungsi sesuai dengan ciri sebagai layanan pendidikan nonformal.  Bahwa ciri yang dimiliki Program Paket C yaitu memiliki fungsi untuk membekali peserta didik dengan kemampuan akademik dan keterampilan fungsional, serta sikap dan kepribadian profesional (Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010). Fungsi tersebut menggariskan jika penyelenggaraan Program Paket C hendaknya memuat program pendidikan yang terintegrasi antara pengetahuan / akademik dan skill / keterampilan fungsional.  Kenyataan dari penyelenggaraan Program Paket C pada satuan pendidikan nonformal kebanyakan hanya memprioriTASkan program pembelajaran akademik berupa mata pelajaran yang termasuk mata ujian nasional. Program keterampilan fungsional sering hanya menjadi penunjang, bahkan kadang kala tidak terprogram dalam pembelajaran. Sehingga ciri pembelajaran Program Paket C belum terwujud secara maksimal. Guna menampakkan ciri pembelajaran Program Paket C yang mengintegrasikan pengetahuan akademik dan keterampilan fungsional, maka penyelenggaraan pembelajaran perlu didukung dengan komponen bahan ajar yang relevan.  

Fenomena dalam penyelenggaraan Program Paket C secara umum yaitu masyarakat penerima layanan cenderung dari kelompok masyarakat yang terdesak untuk memperoleh peluang bekerja. Misalnya mengikuti Program Paket C karena akan memasuki dunia kerja pada sektor formal. Selain itu penerima layanan Program Paket C mempersiapkan daya saing untuk membuka pekerjaan pada sektor informal. Kondisi tersebut semakin menuntut pembelajaran Program Paket C dapat membantu peserta didik mencapai penguasaan pengetahuan akademik dan skill. Pengembangan bahan ajar menjadi upaya yang penting untuk mediasi peserta didik agar dapat mencapai hasil belajar yang diharapkan.  

Sebagaimana diketahui sasaran program pendidikan kesetaraan terdiri dari kelompok masyarakat yang mengalami putus pendidikan dasar dan atau menengah melalui jalur sekolah.  Akibat putus sekolah tersebut menyebabkan sasaran pendidikan kesetaraan mengalami kondisi kurang berminat mengikuti kegiatan pembelajaran. Sudut pandang terhadap permasalahan putus sekolah banyak yang melihat penyebab umumnya adalah masalah ekonomi.  Kata lain permasalahan putus sekolah seiring dengan permasalah kemiskinan. Sedangkan permasalahan kemiskinan seiring dengan masalah lemahnya daya saing masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya. Oleh sebab itu penyusunan bahan ajar pendidikan kesetaraan harus mampu membantu sasaran memperoleh pengetahuan akademik dan pengetahuan vokasi agar memberikan bekal bagi peserta didik meraih peluang meningkatkan taraf hidupnya. Namun banyak  fakta jika penyelenggaraan pendidikan kesetaraan belum memiliki bahan ajar yang terintegrasi antara pengetahuan akademik dan pengetahuan vokasi.


Bahan Ajar

Agenda

  • Agenda
    🕔27 Agustus 2018

    Bimbingan Teknis Penjaminan Mutu Satuan Pendidikan Non Formal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB)

  • Agenda
    🕔30 Juli 2018

    FGD Orientasi Supervisi Satuan PAUD dan Dikmas

  • Agenda
    🕔07 Mei 2018

    Diklat Peningkatan Kompetensi Penilik

  • Agenda
    🕔07 Mei 2018

    Diklat Manajemen Pengelolaan LKP

  • Agenda
    🕔10 April 2018

    Rapat Koordinasi (Rakor) Kabupaten Kota Tahun 2018

Selengkapnya

Change Language

Sosial Media

Statistik Pengunjung